Sabtu, 01 Agustus 2026

Aku Memilih Jalan Ini

Ponpes Rania


Rania lahir dan tumbuh di sebuah desa yang tenang. Hidupnya terasa cukup. Ia tinggal bersama bapak, mamah, dan saudara-saudaranya yang selalu menghangatkan rumah. Tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan kenyamanan itu. Namun, di dalam hati, ada sebuah keinginan yang terus mengetuk: ia ingin memahami agamanya lebih dalam dan mengembangkan diri.

“Apa Rania yakin ingin mondok jauh dari rumah?” tanya Mamah suatu malam.

Rania menunduk sejenak lalu tersenyum. “Insyaallah yakin, Mah. Rania ingin belajar lebih banyak.”

Mamah mengusap kepala putrinya. “Kalau itu pilihan yang baik, Mamah akan mendukung.”

Saat hari keberangkatan tiba, Rania menyadari bahwa memilih pergi ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Ia bukan orang yang ditinggalkan. Justru dialah yang memilih meninggalkan rumah.

***

Pesantren modern yang dipilih Rania berada di luar kota. Santrinya datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Thailand. Semua terlihat menarik saat dibayangkan, tetapi kenyataan terasa berbeda.

Hari pertama di asrama menjadi hari yang berat. Rania terbiasa berbicara menggunakan bahasa Sunda. Ketika harus menggunakan bahasa Indonesia setiap hari, ia sering merasa malu.

“Kalau aku salah ngomong bagaimana?” pikirnya.

Malam pertama menjadi awal dari kerinduan panjang. Ia menangis diam-diam di balik selimut. Tidak ada yang tahu.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Namun rasa rindu belum juga reda. Selama hampir tiga bulan, Rania sering menangis tanpa suara. Ia merindukan masakan Mamah, nasihat Bapak, dan suasana rumah yang sederhana tetapi menenangkan.

Suatu sore, seorang kakak kelas menghampirinya.

“Kamu lagi kangen rumah, ya?” tanya teh Yeti, kakak kelas asal Bandung.

Mata Rania langsung berkaca-kaca.

Yeti tersenyum lembut. “Tidak apa-apa. Nangis dulu saja.”

Rania akhirnya luruh menangis sesenggukan.. Teti tidak banyak bicara. Ia hanya duduk menemani sampai tangis itu mereda.

Sejak saat itu, Rania merasa memiliki seseorang yang memahami perasaannya.

***

Selain teman-teman yang baik, para ustadzah di pesantren juga sangat perhatian.

Suatu hari, dalam sesi ceramah sore. Seorang ustadz memberikan nasihat kepada para santri yang terus diingat Rania.

“Di pondok, yang paling penting itu betah dulu. Belajar yang baik akan mengikuti setelahnya. “Allohumma paksakeun”. Minta kepada Allah agar hati dimudahkan untuk betah.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menancap kuat di hati Rania. Malam itu ia berdoa lebih lama. “Ya Allah, kalau ini jalan yang baik, tolong kuatkan aku.”

Alhamdulillah, sejak saat itu, ia mulai mencoba menikmati setiap kegiatan pondok.

Ia mengikuti hafalan Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh. Ia belajar mufrodat bahasa Arab setiap hari. Ia juga mulai terbiasa mengikuti shalat berjamaah dan berbagai kegiatan lainnya.

Perlahan, rasa asing berubah menjadi rasa memiliki. Teman-teman yang dulu terasa jauh kini menjadi keluarga baru. Senyum merekah Rania mulai terasa.

Bahasa Indonesia yang dulu membuatnya malu, kini semakin lancar. Bahkan ia mulai mampu berbicara bahasa Arab sederhana dan sedikit bahasa Inggris.

***

Tahun demi tahun berlalu. Rania yang dulu sering menangis kini menjadi santri yang ceria dan bersemangat.

Suatu hari, seorang santri baru terlihat menangis di sudut asrama. Rania menghampirinya.

“Kangen rumah?” tanyanya.

Santri itu mengangguk. Rania tersenyum.

“Aku juga pernah seperti itu. Menangislah kalau memang ingin menangis. Tapi jangan menyerah. Percayalah, suatu hari nanti pondok ini akan terasa seperti rumah kedua.”

Santri itu menatapnya dengan harapan baru.

Saat itulah Rania sadar bahwa setiap air mata yang pernah jatuh ternyata tidak sia-sia. Semua proses itu telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.

***

Hari kelulusan akhirnya tiba.

Rania berdiri dengan penuh syukur. Nilai akademiknya memuaskan. Prestasi hafalannya membanggakan. Ia juga termasuk salah satu santri berprestasi.

Di antara keramaian acara kelulusan, ia melihat Bapak dan Mamah tersenyum haru.

“Alhamdulillah, kami bangga pada Rania,” kata Bapak.

Mata Rania berkaca-kaca.

Dulu ia pergi dengan membawa ketakutan, kerinduan, dan rasa bersalah karena meninggalkan rumah yang nyaman.

Kini ia pulang membawa ilmu, pengalaman, sahabat, dan keyakinan bahwa pilihannya tidak salah.

Ia memahami satu hal penting: terkadang menetap bukanlah jawaban yang tepat. Ada saatnya seseorang harus berani melangkah pergi agar bisa tumbuh menjadi versi terbaik dirinya.

Karena sesungguhnya, memilih pergi demi kebaikan bukan berarti meninggalkan cinta. Justru itulah cara seseorang menjaga harapan, meraih ilmu, dan membanggakan orang-orang yang dicintainya.

“Betah dulu, lalu bertumbuh,” bisik Rania sambil tersenyum.

Quote :

Keberanian meninggalkan zona nyaman untuk mencari ilmu akan menghadirkan banyak pelajaran berharga. Kesulitan dan kerinduan adalah bagian dari proses. Jika dijalani dengan sabar dan ikhlas, semua itu akan menjadi jalan menuju pertumbuhan dan keberhasilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar