Senin, 03 Agustus 2026

Perjalananku Melewati Kerikil Kehidupan

 


“Silahkan Bunda-bunda semua menggambarkan sungai kehidupannya masing-masing ya, cukup dalam waktu 15 menit. “ Terdengar Fasilitator memberikan instruksi kepada kami. 

Tanpa dibendung, pikiranku mulai mengembara ke tahun-tahun lalu. Teringat semua perjalanan hidupku digambarkan seperti sungai yang mengalir. Terkadang tenang, terkadang ada arus yang besar kadang penuh dengan kerikil-kerikil kecil, bahkan batu besar yang menghalang. Setiap perjalanan itu membawa cerita, baik suka maupun duka. Tapi, satu hal yang aku pelajari: di balik kerikil-kerikil itu, ada hikmah yang menanti. 

Dulu, ketika pertama kali memulai peran baru sebagai seorang ibu, aku merasa belum siap sepenuhnya. Apalagi saat itu, tahun 2016 kami sekeluarga harus merantau ke Makassar karena suami ditugaskan di sana. Saat itu, anak pertamaku baru berusia 1,5 tahun. Rasanya semakin belum siap untuk mandiri bersama sekeluarga. Dalam bayanganku, kota itu jauh berbeda dalam budaya dan bahasa. Setiap sudutnya terasa asing. Aku yang dulu merasa nyaman di tanah kelahiranku, kini harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali baru. Aku merasa cemas. Akankah aku bisa menjalani kehidupan baru ini dengan baik? Bagaimana jika aku tidak bisa menjadi ibu yang baik? Bagaimana jika aku tidak mampu beradaptasi dengan cepat?

Kekhawatiranku semakin besar karena aku merasa sangat awam menjadi ibu. Semua terasa baru bagiku. Apa yang harus kulakukan, bagaimana aku bisa mengasuh anak dengan baik, bagaimana membangun rumah tangga yang harmonis, dan masih banyak lagi pertanyaan yang menghantui pikiranku. Rasanya aku seperti seorang pejalan yang tersesat di hutan belantara, tak tahu harus ke mana. Namun, aku tahu satu hal: aku tidak bisa terus-menerus terjebak dalam ketakutan ini. Aku harus menemukan cara untuk mengatasi semua kerikil itu.

Beruntung, pada saat aku sedang mencari cara untuk beradaptasi dengan kehidupan baru, aku menemukan sebuah komunitas yang mendukung peranku sebagai ibu juga sebagai pribadi yang harus terus berkembang. Komunitas ini tidak hanya membahas tentang bagaimana menjadi ibu yang baik, tetapi juga tentang bagaimana mengenal diri sendiri hingga bisa bermanfaat dengan prinsip dari dalam ke luar. Artinya, harus dibenahi dulu dari dalam rumah, baru bisa berbagi dengan bahagia. 

Langkah Pertama: Mengenali Diri

Awalnya, aku mengikuti kelas matrikulasi dengan materi tentang adab dahulu baru kemudian ilmu juga belajar mengenali diri sendiri. Kelas ini memberikan pemahaman yang begitu mendalam tentang potensi diri, bagaimana mengenali kekuatan dalam diriku yang selama ini tersembunyi.  

Aku juga belajar banyak tentang manajemen waktu, tentang bagaimana mengatur setiap detik dalam hidupku agar lebih produktif. Sebelumnya, aku merasa waktu selalu berlari begitu cepat, dan aku merasa tidak kurang bisa mengaturnya. Tapi setelah mengikuti kelas ini, aku mulai melihat bahwa manajemen waktu bukan tentang mengisi setiap jam dengan aktivitas, melainkan tentang mengatur prioritas. Aku belajar untuk memberikan ruang bagi diriku sendiri, memberi waktu untuk bersantai, dan yang lebih penting, memberi ruang untuk tumbuh.

Langkah Kedua: Parenting dan Harmoni Keluarga 

Setelah pengenalan diri, aku melanjutkan ke kelas parenting. Ini adalah kelas yang sangat penting bagiku karena aku merasa sebagai ibu, aku harus terus belajar tentang cara mengasuh anak dengan penuh kasih sayang, tanpa melupakan aspek pendidikan dan pengasuhan yang benar. Di kelas ini, aku diajarkan tentang berbagai tahapan perkembangan anak, tentang pentingnya komunikasi, dan bagaimana membangun hubungan yang harmonis dengan suami.

Aku tahu, sebagai ibu, aku harus mendampingi anak-anak melewati masa tumbuh kembang mereka. Tapi aku juga menyadari bahwa untuk bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anak, aku harus terlebih dahulu menjaga hubungan yang baik dengan suami. Menyelaraskan visi dan misi keluarga menjadi hal yang sangat penting. Kami mulai merencanakan masa depan bersama, memastikan bahwa setiap langkah yang kami ambil membawa keluarga ke arah yang lebih baik. Kelas ini mengajarkan aku untuk lebih sabar, untuk tidak terburu-buru dalam membentuk keluarga, karena setiap langkah harus diambil dengan penuh perencanaan dan kesadaran.

Langkah Ketiga: Menjadi Ibu yang Cekatan

Setelah itu, aku melanjutkan ke kelas cekatan. Kelas ini mengajarkan tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang cekatan dalam mengurus rumah tangga. Aku belajar bagaimana mengatur rumah tangga dengan lebih efisien, dari hal-hal kecil seperti menyiapkan makanan, membersihkan rumah, hingga mendelegasikan tugas yang dapat dikerjakan oleh orang lain.  

Sebelumnya, aku selalu merasa harus melakukan segalanya sendiri. Aku merasa bahwa jika aku tidak melakukan semuanya, berarti aku gagal. Namun di kelas ini, aku diajarkan bahwa seorang ibu yang baik bukan berarti harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah sendirian. Terkadang, meminta bantuan adalah bentuk kecerdasan. Aku mulai melibatkan suami dan anak-anak dalam tugas rumah tangga, bahkan jika itu hal-hal kecil. Tidak hanya meringankan beban, tetapi ini juga mengajarkan mereka tanggung jawab sejak dini. Bahkan, bisa saja melibatkan pihak ketiga jika memang dibutuhkan. Seperti pesan makanan di luar maupun mencuci di laundry agar semuanya nyaman dan aman. 

Langkah Keempat: Bisa Memulai Produktif dan Menghasilkan 

Kemudian, perjalanan belajarku berlanjut ke kelas yang lebih menantang: bagaimana seorang ibu bisa produktif dan menghasilkan. Di sini, aku dipaksa untuk mempertajam passion-ku, mencari tahu apa yang bisa dihasilkan dari kemampuan yang aku miliki. 

Sebelumnya memang aku sudah memulai bisnis online di instagram, tapi belum begitu berkembang. Ketika di kelas ini, aku berkonsultasi dengan mentor dan disarankan untuk merekrut reseller dan mengelolanya. Di sinilah aku mulai membuat katalog di Channel Telegram, kemudian menawarkan untuk jadi reseller ke pelanggan. Alhamdulillah dalam waktu seminggu ada 30 orang yang daftar reseller dan dibuat dalam satu group. 

Awalnya, aku merasa cemas. Bagaimana jika aku tidak bisa mengelola para reseller ini dengan baik? Tapi, dengan bimbingan dari komunitas, aku perlahan mulai belajar cara mengelola reseller dan berusaha membuat mereka nyaman. Alhamdulillah, senang rasanya bisa mengalahkan rasa takut dan gagap dalam mengelola grup reseller. Walaupun masih jauh dari sempurna, aku merasa bahagia karena aku telah melangkah keluar dari zona nyaman dan memulai sesuatu yang baru.  

Langkah Kelima: Memberikan Manfaat untuk Orang Lain

“Apa yang ingin orang lain kenang, jika kamu sudah tidak ada di dunia ini?” Pertanyaan pemantik dari guruku untuk kelas terakhir ini. 

Di kelas terakhir, aku belajar tentang bagaimana kita bisa mengubah masalah menjadi solusi dan memberikan manfaat bagi orang lain. Di sini, kami diajarkan untuk berpikir lebih besar, tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Aku bersama beberapa teman di komunitas ini, memulai membuat tim yang fokus pada kesehatan mental ibu, khususnya pengelolaan emosi. Aku berperan sebagai konten kreator di tim ini, menghasilkan konten-konten yang dapat membantu ibu-ibu dalam mengelola emosi mereka.

Alhamdulillah, tim kami telah membantu banyak ibu untuk merasa lebih baik dalam menjalani kehidupan mereka. Aku merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari perubahan kecil ini, memberikan manfaat bagi orang lain. 

Transformasi Diriku

Sekarang, setelah menjalani proses ini satu demi satu, aku merasa jauh berbeda dari diriku yang dulu. Aku telah banyak belajar, dan meskipun masih terus belajar, aku merasa lebih tenang dan lebih bijak lagi dalam menjalani hidup. Aku sudah bisa memilah mana yang penting dan mana yang tidak. Ketika ada orang yang bertanya, “Kenapa anakmu belum bisa bicara lancar?” atau “Kok anakmu kecil banget?” aku tidak lagi merasa tertekan. Aku tahu bahwa setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda, dan selama itu dalam batas yang wajar, aku tidak perlu khawatir.

Dari seorang ibu yang minder dan penuh keraguan, kini aku menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Aku mengenal diriku lebih baik, dan aku merasa lebih siap untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Aku tahu bahwa hidup ini bukan tentang menghindari kerikil-kerikil yang ada, melainkan bagaimana kita belajar untuk melewati setiap rintangan dengan ilmu yang kita miliki. 

Begitulah kisahku, perjalanan seorang ibu yang berusaha melewati kerikil-kerikil kehidupan ini. Aku tahu, perjalanan ini belum berakhir, karena setiap hari adalah kesempatan baru untuk terus belajar dan bertumbuh.

Minggu, 02 Agustus 2026

Aku Jujur




Hari ini aku jujur mengakui satu hal yang selama ini sering kututup rapat-rapat: aku sering menunda, lalu terjaga terlalu malam. Pengakuan ini tidak mudah, karena selama ini aku terbiasa terlihat mampu, terlihat teratur, terlihat kuat. Menunda dan tidur larut seolah bertentangan dengan gambaran diriku sebagai ibu yang seharusnya bisa mengatur waktu dengan baik. Tapi hari ini aku memilih jujur, bukan demi terlihat benar, melainkan demi memahami diriku sendiri.


Aku menunda banyak hal. Bukan hanya pekerjaan rumah, bukan hanya tugas-tugas kecil yang sebenarnya bisa selesai lebih cepat. Aku menunda mendengarkan tubuhku yang lelah, menunda berhenti sejenak, menunda memberi ruang untuk bernapas. Siang hari selalu terasa penuh. Penuh dengan kebutuhan orang lain, penuh dengan suara, permintaan, tanggung jawab, dan peran yang silih berganti. Aku berpindah dari satu tugas ke tugas lain, dari satu peran ke peran berikutnya, tanpa benar-benar sempat bertanya pada diri sendiri: “Bagaimana kabarmu hari ini?”


Bukan karena aku tidak peduli. Justru karena aku terlalu peduli. Aku peduli agar semua berjalan baik, agar semua orang merasa diperhatikan, agar tidak ada yang terlewat. Kepedulian itu sering kali membuatku lupa bahwa aku juga termasuk “semua orang” yang butuh diperhatikan. Siangku habis untuk memastikan segalanya berjalan, rapi, dan terkendali. Dan ketika malam datang, barulah aku merasa ada ruang yang kosong—ruang yang akhirnya hanya milikku.


Malam menjadi satu-satunya waktu aku merasa “punya diriku sendiri”. Saat rumah mulai sunyi, saat tuntutan perlahan mereda, saat tidak ada lagi yang memanggil atau membutuhkan sesuatu dariku. Di jam-jam itu, aku bisa duduk tanpa peran, tanpa label, tanpa harus segera merespons. Aku bisa menjadi diriku, meski sering kali dalam keadaan lelah. Ironisnya, justru di saat tubuhku meminta istirahat, pikiranku baru merasa bebas.


Aku sadar, tidur terlalu malam sering kali bukan tentang kurangnya disiplin, tapi tentang kebutuhan yang tertunda sepanjang hari. Ada bagian diriku yang ingin didengarkan, ingin diberi waktu, ingin merasa hadir sebagai individu, bukan hanya sebagai ibu atau pengelola rumah. Dan karena kebutuhan itu tidak mendapatkan tempat di siang hari, malam pun menjadi pelariannya.


Namun, semakin sering aku memilih malam sebagai ruang milikku, semakin mahal harga yang harus kubayar. Tubuh yang kelelahan, pagi yang terasa berat, emosi yang lebih mudah goyah. Aku mulai menyadari bahwa kebiasaan ini bukan sekadar soal jam tidur, tetapi tentang relasi yang belum seimbang antara memberi dan menerima, antara merawat orang lain dan merawat diri sendiri.


Hari ini aku belum ingin mengubah apa pun secara drastis. Aku hanya ingin berhenti menyangkal. Mengakui bahwa aku lelah. Mengakui bahwa aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Dan mengakui bahwa caraku selama ini, meski bisa dimengerti, mungkin bukan yang paling ramah untukku dalam jangka panjang.


Hari ini adalah langkah kecil. Langkah untuk jujur. Langkah untuk mendengar. Langkah untuk mulai bertanya: bagaimana caranya aku bisa tetap menjadi ibu yang peduli, tanpa harus kehilangan diriku sendiri? Jawabannya mungkin belum ada sekarang. Tapi setidaknya, hari ini aku sudah berani memulainya dengan kejujuran.



Sabtu, 01 Agustus 2026

Aku Memilih Jalan Ini

Ponpes Rania


Rania lahir dan tumbuh di sebuah desa yang tenang. Hidupnya terasa cukup. Ia tinggal bersama bapak, mamah, dan saudara-saudaranya yang selalu menghangatkan rumah. Tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan kenyamanan itu. Namun, di dalam hati, ada sebuah keinginan yang terus mengetuk: ia ingin memahami agamanya lebih dalam dan mengembangkan diri.

“Apa Rania yakin ingin mondok jauh dari rumah?” tanya Mamah suatu malam.

Rania menunduk sejenak lalu tersenyum. “Insyaallah yakin, Mah. Rania ingin belajar lebih banyak.”

Mamah mengusap kepala putrinya. “Kalau itu pilihan yang baik, Mamah akan mendukung.”

Saat hari keberangkatan tiba, Rania menyadari bahwa memilih pergi ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Ia bukan orang yang ditinggalkan. Justru dialah yang memilih meninggalkan rumah.

***

Pesantren modern yang dipilih Rania berada di luar kota. Santrinya datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Thailand. Semua terlihat menarik saat dibayangkan, tetapi kenyataan terasa berbeda.

Hari pertama di asrama menjadi hari yang berat. Rania terbiasa berbicara menggunakan bahasa Sunda. Ketika harus menggunakan bahasa Indonesia setiap hari, ia sering merasa malu.

“Kalau aku salah ngomong bagaimana?” pikirnya.

Malam pertama menjadi awal dari kerinduan panjang. Ia menangis diam-diam di balik selimut. Tidak ada yang tahu.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Namun rasa rindu belum juga reda. Selama hampir tiga bulan, Rania sering menangis tanpa suara. Ia merindukan masakan Mamah, nasihat Bapak, dan suasana rumah yang sederhana tetapi menenangkan.

Suatu sore, seorang kakak kelas menghampirinya.

“Kamu lagi kangen rumah, ya?” tanya teh Yeti, kakak kelas asal Bandung.

Mata Rania langsung berkaca-kaca.

Yeti tersenyum lembut. “Tidak apa-apa. Nangis dulu saja.”

Rania akhirnya luruh menangis sesenggukan.. Teti tidak banyak bicara. Ia hanya duduk menemani sampai tangis itu mereda.

Sejak saat itu, Rania merasa memiliki seseorang yang memahami perasaannya.

***

Selain teman-teman yang baik, para ustadzah di pesantren juga sangat perhatian.

Suatu hari, dalam sesi ceramah sore. Seorang ustadz memberikan nasihat kepada para santri yang terus diingat Rania.

“Di pondok, yang paling penting itu betah dulu. Belajar yang baik akan mengikuti setelahnya. “Allohumma paksakeun”. Minta kepada Allah agar hati dimudahkan untuk betah.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menancap kuat di hati Rania. Malam itu ia berdoa lebih lama. “Ya Allah, kalau ini jalan yang baik, tolong kuatkan aku.”

Alhamdulillah, sejak saat itu, ia mulai mencoba menikmati setiap kegiatan pondok.

Ia mengikuti hafalan Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh. Ia belajar mufrodat bahasa Arab setiap hari. Ia juga mulai terbiasa mengikuti shalat berjamaah dan berbagai kegiatan lainnya.

Perlahan, rasa asing berubah menjadi rasa memiliki. Teman-teman yang dulu terasa jauh kini menjadi keluarga baru. Senyum merekah Rania mulai terasa.

Bahasa Indonesia yang dulu membuatnya malu, kini semakin lancar. Bahkan ia mulai mampu berbicara bahasa Arab sederhana dan sedikit bahasa Inggris.

***

Tahun demi tahun berlalu. Rania yang dulu sering menangis kini menjadi santri yang ceria dan bersemangat.

Suatu hari, seorang santri baru terlihat menangis di sudut asrama. Rania menghampirinya.

“Kangen rumah?” tanyanya.

Santri itu mengangguk. Rania tersenyum.

“Aku juga pernah seperti itu. Menangislah kalau memang ingin menangis. Tapi jangan menyerah. Percayalah, suatu hari nanti pondok ini akan terasa seperti rumah kedua.”

Santri itu menatapnya dengan harapan baru.

Saat itulah Rania sadar bahwa setiap air mata yang pernah jatuh ternyata tidak sia-sia. Semua proses itu telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.

***

Hari kelulusan akhirnya tiba.

Rania berdiri dengan penuh syukur. Nilai akademiknya memuaskan. Prestasi hafalannya membanggakan. Ia juga termasuk salah satu santri berprestasi.

Di antara keramaian acara kelulusan, ia melihat Bapak dan Mamah tersenyum haru.

“Alhamdulillah, kami bangga pada Rania,” kata Bapak.

Mata Rania berkaca-kaca.

Dulu ia pergi dengan membawa ketakutan, kerinduan, dan rasa bersalah karena meninggalkan rumah yang nyaman.

Kini ia pulang membawa ilmu, pengalaman, sahabat, dan keyakinan bahwa pilihannya tidak salah.

Ia memahami satu hal penting: terkadang menetap bukanlah jawaban yang tepat. Ada saatnya seseorang harus berani melangkah pergi agar bisa tumbuh menjadi versi terbaik dirinya.

Karena sesungguhnya, memilih pergi demi kebaikan bukan berarti meninggalkan cinta. Justru itulah cara seseorang menjaga harapan, meraih ilmu, dan membanggakan orang-orang yang dicintainya.

“Betah dulu, lalu bertumbuh,” bisik Rania sambil tersenyum.

Quote :

Keberanian meninggalkan zona nyaman untuk mencari ilmu akan menghadirkan banyak pelajaran berharga. Kesulitan dan kerinduan adalah bagian dari proses. Jika dijalani dengan sabar dan ikhlas, semua itu akan menjadi jalan menuju pertumbuhan dan keberhasilan.