Minggu, 02 Agustus 2026

Aku Jujur




Hari ini aku jujur mengakui satu hal yang selama ini sering kututup rapat-rapat: aku sering menunda, lalu terjaga terlalu malam. Pengakuan ini tidak mudah, karena selama ini aku terbiasa terlihat mampu, terlihat teratur, terlihat kuat. Menunda dan tidur larut seolah bertentangan dengan gambaran diriku sebagai ibu yang seharusnya bisa mengatur waktu dengan baik. Tapi hari ini aku memilih jujur, bukan demi terlihat benar, melainkan demi memahami diriku sendiri.


Aku menunda banyak hal. Bukan hanya pekerjaan rumah, bukan hanya tugas-tugas kecil yang sebenarnya bisa selesai lebih cepat. Aku menunda mendengarkan tubuhku yang lelah, menunda berhenti sejenak, menunda memberi ruang untuk bernapas. Siang hari selalu terasa penuh. Penuh dengan kebutuhan orang lain, penuh dengan suara, permintaan, tanggung jawab, dan peran yang silih berganti. Aku berpindah dari satu tugas ke tugas lain, dari satu peran ke peran berikutnya, tanpa benar-benar sempat bertanya pada diri sendiri: “Bagaimana kabarmu hari ini?”


Bukan karena aku tidak peduli. Justru karena aku terlalu peduli. Aku peduli agar semua berjalan baik, agar semua orang merasa diperhatikan, agar tidak ada yang terlewat. Kepedulian itu sering kali membuatku lupa bahwa aku juga termasuk “semua orang” yang butuh diperhatikan. Siangku habis untuk memastikan segalanya berjalan, rapi, dan terkendali. Dan ketika malam datang, barulah aku merasa ada ruang yang kosong—ruang yang akhirnya hanya milikku.


Malam menjadi satu-satunya waktu aku merasa “punya diriku sendiri”. Saat rumah mulai sunyi, saat tuntutan perlahan mereda, saat tidak ada lagi yang memanggil atau membutuhkan sesuatu dariku. Di jam-jam itu, aku bisa duduk tanpa peran, tanpa label, tanpa harus segera merespons. Aku bisa menjadi diriku, meski sering kali dalam keadaan lelah. Ironisnya, justru di saat tubuhku meminta istirahat, pikiranku baru merasa bebas.


Aku sadar, tidur terlalu malam sering kali bukan tentang kurangnya disiplin, tapi tentang kebutuhan yang tertunda sepanjang hari. Ada bagian diriku yang ingin didengarkan, ingin diberi waktu, ingin merasa hadir sebagai individu, bukan hanya sebagai ibu atau pengelola rumah. Dan karena kebutuhan itu tidak mendapatkan tempat di siang hari, malam pun menjadi pelariannya.


Namun, semakin sering aku memilih malam sebagai ruang milikku, semakin mahal harga yang harus kubayar. Tubuh yang kelelahan, pagi yang terasa berat, emosi yang lebih mudah goyah. Aku mulai menyadari bahwa kebiasaan ini bukan sekadar soal jam tidur, tetapi tentang relasi yang belum seimbang antara memberi dan menerima, antara merawat orang lain dan merawat diri sendiri.


Hari ini aku belum ingin mengubah apa pun secara drastis. Aku hanya ingin berhenti menyangkal. Mengakui bahwa aku lelah. Mengakui bahwa aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Dan mengakui bahwa caraku selama ini, meski bisa dimengerti, mungkin bukan yang paling ramah untukku dalam jangka panjang.


Hari ini adalah langkah kecil. Langkah untuk jujur. Langkah untuk mendengar. Langkah untuk mulai bertanya: bagaimana caranya aku bisa tetap menjadi ibu yang peduli, tanpa harus kehilangan diriku sendiri? Jawabannya mungkin belum ada sekarang. Tapi setidaknya, hari ini aku sudah berani memulainya dengan kejujuran.



Sabtu, 01 Agustus 2026

Aku Memilih Jalan Ini

Ponpes Rania


Rania lahir dan tumbuh di sebuah desa yang tenang. Hidupnya terasa cukup. Ia tinggal bersama bapak, mamah, dan saudara-saudaranya yang selalu menghangatkan rumah. Tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan kenyamanan itu. Namun, di dalam hati, ada sebuah keinginan yang terus mengetuk: ia ingin memahami agamanya lebih dalam dan mengembangkan diri.

“Apa Rania yakin ingin mondok jauh dari rumah?” tanya Mamah suatu malam.

Rania menunduk sejenak lalu tersenyum. “Insyaallah yakin, Mah. Rania ingin belajar lebih banyak.”

Mamah mengusap kepala putrinya. “Kalau itu pilihan yang baik, Mamah akan mendukung.”

Saat hari keberangkatan tiba, Rania menyadari bahwa memilih pergi ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Ia bukan orang yang ditinggalkan. Justru dialah yang memilih meninggalkan rumah.

***

Pesantren modern yang dipilih Rania berada di luar kota. Santrinya datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Thailand. Semua terlihat menarik saat dibayangkan, tetapi kenyataan terasa berbeda.

Hari pertama di asrama menjadi hari yang berat. Rania terbiasa berbicara menggunakan bahasa Sunda. Ketika harus menggunakan bahasa Indonesia setiap hari, ia sering merasa malu.

“Kalau aku salah ngomong bagaimana?” pikirnya.

Malam pertama menjadi awal dari kerinduan panjang. Ia menangis diam-diam di balik selimut. Tidak ada yang tahu.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Namun rasa rindu belum juga reda. Selama hampir tiga bulan, Rania sering menangis tanpa suara. Ia merindukan masakan Mamah, nasihat Bapak, dan suasana rumah yang sederhana tetapi menenangkan.

Suatu sore, seorang kakak kelas menghampirinya.

“Kamu lagi kangen rumah, ya?” tanya teh Yeti, kakak kelas asal Bandung.

Mata Rania langsung berkaca-kaca.

Yeti tersenyum lembut. “Tidak apa-apa. Nangis dulu saja.”

Rania akhirnya luruh menangis sesenggukan.. Teti tidak banyak bicara. Ia hanya duduk menemani sampai tangis itu mereda.

Sejak saat itu, Rania merasa memiliki seseorang yang memahami perasaannya.

***

Selain teman-teman yang baik, para ustadzah di pesantren juga sangat perhatian.

Suatu hari, dalam sesi ceramah sore. Seorang ustadz memberikan nasihat kepada para santri yang terus diingat Rania.

“Di pondok, yang paling penting itu betah dulu. Belajar yang baik akan mengikuti setelahnya. “Allohumma paksakeun”. Minta kepada Allah agar hati dimudahkan untuk betah.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menancap kuat di hati Rania. Malam itu ia berdoa lebih lama. “Ya Allah, kalau ini jalan yang baik, tolong kuatkan aku.”

Alhamdulillah, sejak saat itu, ia mulai mencoba menikmati setiap kegiatan pondok.

Ia mengikuti hafalan Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh. Ia belajar mufrodat bahasa Arab setiap hari. Ia juga mulai terbiasa mengikuti shalat berjamaah dan berbagai kegiatan lainnya.

Perlahan, rasa asing berubah menjadi rasa memiliki. Teman-teman yang dulu terasa jauh kini menjadi keluarga baru. Senyum merekah Rania mulai terasa.

Bahasa Indonesia yang dulu membuatnya malu, kini semakin lancar. Bahkan ia mulai mampu berbicara bahasa Arab sederhana dan sedikit bahasa Inggris.

***

Tahun demi tahun berlalu. Rania yang dulu sering menangis kini menjadi santri yang ceria dan bersemangat.

Suatu hari, seorang santri baru terlihat menangis di sudut asrama. Rania menghampirinya.

“Kangen rumah?” tanyanya.

Santri itu mengangguk. Rania tersenyum.

“Aku juga pernah seperti itu. Menangislah kalau memang ingin menangis. Tapi jangan menyerah. Percayalah, suatu hari nanti pondok ini akan terasa seperti rumah kedua.”

Santri itu menatapnya dengan harapan baru.

Saat itulah Rania sadar bahwa setiap air mata yang pernah jatuh ternyata tidak sia-sia. Semua proses itu telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.

***

Hari kelulusan akhirnya tiba.

Rania berdiri dengan penuh syukur. Nilai akademiknya memuaskan. Prestasi hafalannya membanggakan. Ia juga termasuk salah satu santri berprestasi.

Di antara keramaian acara kelulusan, ia melihat Bapak dan Mamah tersenyum haru.

“Alhamdulillah, kami bangga pada Rania,” kata Bapak.

Mata Rania berkaca-kaca.

Dulu ia pergi dengan membawa ketakutan, kerinduan, dan rasa bersalah karena meninggalkan rumah yang nyaman.

Kini ia pulang membawa ilmu, pengalaman, sahabat, dan keyakinan bahwa pilihannya tidak salah.

Ia memahami satu hal penting: terkadang menetap bukanlah jawaban yang tepat. Ada saatnya seseorang harus berani melangkah pergi agar bisa tumbuh menjadi versi terbaik dirinya.

Karena sesungguhnya, memilih pergi demi kebaikan bukan berarti meninggalkan cinta. Justru itulah cara seseorang menjaga harapan, meraih ilmu, dan membanggakan orang-orang yang dicintainya.

“Betah dulu, lalu bertumbuh,” bisik Rania sambil tersenyum.

Quote :

Keberanian meninggalkan zona nyaman untuk mencari ilmu akan menghadirkan banyak pelajaran berharga. Kesulitan dan kerinduan adalah bagian dari proses. Jika dijalani dengan sabar dan ikhlas, semua itu akan menjadi jalan menuju pertumbuhan dan keberhasilan.

Jumat, 30 Januari 2026

Ketika Gunung Menjadi Sekolah Kami


Siang ini, aula Sekolah Menengah (SM) Sekolah Alam Bogor berubah menjadi lautan tas gunung dan semua perlengkapan untuk ekspedisi Gunung Gede Pangrango besok hari. Angin semilir menerpa wajah-wajah semangat kami. Suara siswa-siswi SM bercampur dengan derap langkah para fasilitator yang mondar-mandir memeriksa perlengkapan. Aku berdiri di antara tumpukan barang, menggenggam clipboard berisi daftar yang sudah kuhafal di luar kepala.

“Sleeping bag, sudah dicek?” tanyaku pada Gina, salah satu siswi yang sedang berjongkok menata isi tasnya.

“Sudah, Bu Yuli,” jawabnya dengan wajah cerah, meski nada suaranya mengandung sedikit gugup. Aku tersenyum. “Oke, peralatan lainnya jangan sampai ketinggalan, ya.”

Setelah semua perlengkapan selesai, anak-anak diperbolehkan pulang, untuk istirahat menyiapkan stamina untuk keberangkatan esok hari.

***

Hari ini pun datang, hari yang sudah kami nantikan berbulan-bulan: Ekspedisi Gunung Gede Pangrango, bagian dari program pembelajaran dari alam. Tujuannya bukan sekadar mendaki, tapi belajar tentang kemandirian, kebersamaan, dan kebesaran Sang Pencipta lewat pengalaman nyata di alam.

Aku bukan pendaki. Bahkan, ini pertama kalinya aku benar-benar akan menapaki jalur pendakian gunung sesungguhnya. Tapi ketika pihak sekolah memutuskan ekspedisi ini menjadi bagian dari kurikulum kepemimpinan, dan aku ditunjuk menjadi salah satu fasilitator pendamping, aku tahu ini bukan kebetulan. Allah ingin aku belajar sesuatu dari perjalanan ini.

Pagi ini, kami berangkat. Udara pagi terasa segar, meski jantungku sempat berdebar keras melihat truk TNI hijau tua yang akan membawa kami menuju pos pendakian.

“Bu Yuli, naik di depan aja ya!” tawar salah satu fasilitator laki-laki, Pak Soleh.

Aku tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Pak. Saya di belakang sama anak-anak.” Anak-anak bersorak. Mereka duduk berdesakan di bak truk, saling menepuk bahu, bernyanyi, bahkan ada yang berdoa pelan sambil menatap langit. Angin menerpa wajah, dingin tapi membangkitkan semangat.

Dari kejauhan, Gunung Gede terlihat megah, puncaknya diselimuti awan putih yang menggulung seperti kapas. Dalam hati aku berbisik, Ya Allah, beri kami kekuatan. Jangan biarkan langkah ini hanya menjadi perjalanan fisik, tapi juga perjalanan jiwa.

***

Setibanya di pos pendakian, kami membentuk barisan. Salah satu fasilitator ikhwan memberikan pengarahan dan beberapa nasihat serta memimpin doa. “Bismillah, semoga perjalanan ini membawa banyak pelajaran, bukan hanya ke puncak, tapi juga ke dalam hati kita.”

Setelah itu, kami mulai mendaki. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok, laki-laki dan perempuan terpisah. Aku dan Bu Nita memimpin kelompok akhwat, sementara para fasilitator Ikhwan dan lainnya memimpin kelompok Ikhwan. Juga ada fasilitator Ikhwan yang bertanggung jawab di depan dan belakang untuk sweeping.

Langkah pertama terasa ringan. Jalur tanah yang masih landai membuat anak-anak bercanda riang. Tapi perlahan, jalan mulai menanjak, napas mulai tersengal, dan wajah cerah tadi berubah menjadi serius.

“Astaghfirullah... capek banget, Bu,” keluh Chelsea sambil berhenti menunduk.

Aku tersenyum dan menepuk bahunya. “Capek itu wajar. Tapi ingat, kita naik pelan-pelan. Fokus sama langkahmu, bukan puncaknya dulu.

Pelajaran kecil itu, entah kenapa, juga menamparku sendiri.

***

Perjalanan mulai terasa panjang. Kami berhenti di beberapa pos untuk istirahat. Setiap kali berhenti, Bu Nita mengingatkan anak-anak untuk minum dan berzikir pelan.

Di salah satu pos, kami berhenti agak lama. Beberapa anak mengeluh sakit kaki. Aku mengeluarkan perban dari tas dan membantu mereka membalut luka lecet. Setiap kali kami berhenti, aku perhatikan anak-anak saling membantu. Ada yang menawarkan air, ada yang membantu memanggul tas temannya. Di tengah dingin dan lelah, muncul empati yang tulus—sesuatu yang tak selalu lahir dari ruang kelas.

***

Menjelang siang, kami tiba di area datar dekat aliran air. Para fasilitator memutuskan berhenti lebih lama untuk makan siang dan shalat. Kami gelar matras di atas tanah, sementara angin gunung berhembus membawa aroma dedaunan basah.

Anak-anak berwudhu dengan air yang jernih dan dingin menggigit. Sebagian menggigil, tapi tetap tersenyum. Aku berdiri di barisan saf perempuan, menghadap arah kiblat yang ditunjukkan oleh kompas kecil. Saat takbir pertama terdengar, hatiku bergetar.

Langit biru membentang tanpa batas, dan di tengah sunyi hutan, suara takbir itu terasa begitu dekat dengan langit. Setelah shalat, kami duduk melingkar. Pak Arif memberikan tausiah singkat.

“Naik gunung itu seperti hidup,” katanya pelan. “Kadang menanjak, kadang ingin menyerah. Tapi kalau kita berhenti, kita nggak akan pernah tahu keindahan yang Allah siapkan di atas sana.”

Aku menunduk, menahan haru. Di antara lelah dan napas yang berat, aku tahu—kami sedang belajar lebih dari sekadar ilmu alam. Kami sedang belajar mengenal diri dan Sang Pencipta.

***

Menjelang sore, kabut mulai turun. Udara makin dingin. Jalur makin menanjak. Grup ikhwan sudah jauh di depan. Kami, kelompok akhwat, mulai tertinggal. Setiap langkah terasa berat. Napas terasa seperti menembus dada. Beberapa anak mulai menangis pelan.

“Bu... aku nggak kuat lagi...” bisik salah satu dari mereka dengan suara serak.

Aku berhenti, menatap wajah-wajah letih itu. Dalam hati, aku juga ingin menyerah. Kakiku gemetar, punggung terasa nyeri, dan udara dingin menusuk tulang. Tapi melihat mereka, aku tahu aku tidak boleh lemah.

Aku berdiri tegak, menatap ke depan. “Teman-teman. Kita nggak mungkin turun lagi. Hari sudah hampir malam. Yang bisa kita lakukan hanya satu—melangkah terus. Sedikit lagi, kita pasti sampai.”

Mereka menatapku dengan mata berkaca-kaca.

Entah dari mana datangnya kekuatan itu. Tapi setelah kata-kata itu keluar, langkah-langkah kecil mulai terdengar lagi. Satu per satu anak bangkit dan melanjutkan pendakian. 

Aku berjalan paling belakang, memastikan tak ada yang tertinggal. Langit mulai gelap. Hanya cahaya headlamp yang menembus kabut. Suara kami nyaris tak terdengar, kecuali desah napas dan doa yang berbisik lirih.

***

Jam menunjukkan hampir pukul delapan malam saat kami akhirnya melihat cahaya lampu dari kejauhan. “Bu! Itu lampu tenda!” teriak salah satu anak dengan suara serak tapi penuh semangat. Aku hampir tak percaya. Air mata menetes tanpa bisa kutahan. Kami benar-benar sampai. Begitu tiba di Alun-Alun Suryakencana, anak-anak langsung berbaring di tanah, tertawa dan menangis bersamaan. Aku memeluk Bu Nita. “Alhamdulillah… akhirnya.”

***

Pagi berikutnya, kami bangun dengan tubuh pegal, tapi hati ringan. Kami shalat Subuh berjamaah di padang rumput, diiringi embun yang jatuh dari dedaunan. Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan ke puncak gunung Gede, tanpa hambatan. “Aku tahu sekarang kenapa gunung disebut tempat belajar terbaik. Karena di sini, kita bisa melihat kebesaran Allah dari jarak yang sangat dekat.” Aku tersenyum. Rasanya segala lelah terbayar lunas.

***

Perjalanan turun terasa lebih ringan, meski lutut mulai protes. Tapi kali ini tak ada lagi keluhan. Anak-anak lebih banyak diam, menikmati suara alam. Gunung itu mengajarkan kami banyak hal—tentang kemandirian, kesabaran, rasa syukur, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah datang tepat ketika manusia hampir menyerah.