![]() |
“Silahkan Bunda-bunda semua menggambarkan sungai kehidupannya masing-masing ya, cukup dalam waktu 15 menit. “ Terdengar Fasilitator memberikan instruksi kepada kami.
Tanpa dibendung, pikiranku mulai mengembara ke tahun-tahun lalu. Teringat semua perjalanan hidupku digambarkan seperti sungai yang mengalir. Terkadang tenang, terkadang ada arus yang besar kadang penuh dengan kerikil-kerikil kecil, bahkan batu besar yang menghalang. Setiap perjalanan itu membawa cerita, baik suka maupun duka. Tapi, satu hal yang aku pelajari: di balik kerikil-kerikil itu, ada hikmah yang menanti.
Dulu, ketika pertama kali memulai peran baru sebagai seorang ibu, aku merasa belum siap sepenuhnya. Apalagi saat itu, tahun 2016 kami sekeluarga harus merantau ke Makassar karena suami ditugaskan di sana. Saat itu, anak pertamaku baru berusia 1,5 tahun. Rasanya semakin belum siap untuk mandiri bersama sekeluarga. Dalam bayanganku, kota itu jauh berbeda dalam budaya dan bahasa. Setiap sudutnya terasa asing. Aku yang dulu merasa nyaman di tanah kelahiranku, kini harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali baru. Aku merasa cemas. Akankah aku bisa menjalani kehidupan baru ini dengan baik? Bagaimana jika aku tidak bisa menjadi ibu yang baik? Bagaimana jika aku tidak mampu beradaptasi dengan cepat?
Kekhawatiranku semakin besar karena aku merasa sangat awam menjadi ibu. Semua terasa baru bagiku. Apa yang harus kulakukan, bagaimana aku bisa mengasuh anak dengan baik, bagaimana membangun rumah tangga yang harmonis, dan masih banyak lagi pertanyaan yang menghantui pikiranku. Rasanya aku seperti seorang pejalan yang tersesat di hutan belantara, tak tahu harus ke mana. Namun, aku tahu satu hal: aku tidak bisa terus-menerus terjebak dalam ketakutan ini. Aku harus menemukan cara untuk mengatasi semua kerikil itu.
Beruntung, pada saat aku sedang mencari cara untuk beradaptasi dengan kehidupan baru, aku menemukan sebuah komunitas yang mendukung peranku sebagai ibu juga sebagai pribadi yang harus terus berkembang. Komunitas ini tidak hanya membahas tentang bagaimana menjadi ibu yang baik, tetapi juga tentang bagaimana mengenal diri sendiri hingga bisa bermanfaat dengan prinsip dari dalam ke luar. Artinya, harus dibenahi dulu dari dalam rumah, baru bisa berbagi dengan bahagia.
Langkah Pertama: Mengenali Diri
Awalnya, aku mengikuti kelas matrikulasi dengan materi tentang adab dahulu baru kemudian ilmu juga belajar mengenali diri sendiri. Kelas ini memberikan pemahaman yang begitu mendalam tentang potensi diri, bagaimana mengenali kekuatan dalam diriku yang selama ini tersembunyi.
Aku juga belajar banyak tentang manajemen waktu, tentang bagaimana mengatur setiap detik dalam hidupku agar lebih produktif. Sebelumnya, aku merasa waktu selalu berlari begitu cepat, dan aku merasa tidak kurang bisa mengaturnya. Tapi setelah mengikuti kelas ini, aku mulai melihat bahwa manajemen waktu bukan tentang mengisi setiap jam dengan aktivitas, melainkan tentang mengatur prioritas. Aku belajar untuk memberikan ruang bagi diriku sendiri, memberi waktu untuk bersantai, dan yang lebih penting, memberi ruang untuk tumbuh.
Langkah Kedua: Parenting dan Harmoni Keluarga
Setelah pengenalan diri, aku melanjutkan ke kelas parenting. Ini adalah kelas yang sangat penting bagiku karena aku merasa sebagai ibu, aku harus terus belajar tentang cara mengasuh anak dengan penuh kasih sayang, tanpa melupakan aspek pendidikan dan pengasuhan yang benar. Di kelas ini, aku diajarkan tentang berbagai tahapan perkembangan anak, tentang pentingnya komunikasi, dan bagaimana membangun hubungan yang harmonis dengan suami.
Aku tahu, sebagai ibu, aku harus mendampingi anak-anak melewati masa tumbuh kembang mereka. Tapi aku juga menyadari bahwa untuk bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anak, aku harus terlebih dahulu menjaga hubungan yang baik dengan suami. Menyelaraskan visi dan misi keluarga menjadi hal yang sangat penting. Kami mulai merencanakan masa depan bersama, memastikan bahwa setiap langkah yang kami ambil membawa keluarga ke arah yang lebih baik. Kelas ini mengajarkan aku untuk lebih sabar, untuk tidak terburu-buru dalam membentuk keluarga, karena setiap langkah harus diambil dengan penuh perencanaan dan kesadaran.
Langkah Ketiga: Menjadi Ibu yang Cekatan
Setelah itu, aku melanjutkan ke kelas cekatan. Kelas ini mengajarkan tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang cekatan dalam mengurus rumah tangga. Aku belajar bagaimana mengatur rumah tangga dengan lebih efisien, dari hal-hal kecil seperti menyiapkan makanan, membersihkan rumah, hingga mendelegasikan tugas yang dapat dikerjakan oleh orang lain.
Sebelumnya, aku selalu merasa harus melakukan segalanya sendiri. Aku merasa bahwa jika aku tidak melakukan semuanya, berarti aku gagal. Namun di kelas ini, aku diajarkan bahwa seorang ibu yang baik bukan berarti harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah sendirian. Terkadang, meminta bantuan adalah bentuk kecerdasan. Aku mulai melibatkan suami dan anak-anak dalam tugas rumah tangga, bahkan jika itu hal-hal kecil. Tidak hanya meringankan beban, tetapi ini juga mengajarkan mereka tanggung jawab sejak dini. Bahkan, bisa saja melibatkan pihak ketiga jika memang dibutuhkan. Seperti pesan makanan di luar maupun mencuci di laundry agar semuanya nyaman dan aman.
Langkah Keempat: Bisa Memulai Produktif dan Menghasilkan
Kemudian, perjalanan belajarku berlanjut ke kelas yang lebih menantang: bagaimana seorang ibu bisa produktif dan menghasilkan. Di sini, aku dipaksa untuk mempertajam passion-ku, mencari tahu apa yang bisa dihasilkan dari kemampuan yang aku miliki.
Sebelumnya memang aku sudah memulai bisnis online di instagram, tapi belum begitu berkembang. Ketika di kelas ini, aku berkonsultasi dengan mentor dan disarankan untuk merekrut reseller dan mengelolanya. Di sinilah aku mulai membuat katalog di Channel Telegram, kemudian menawarkan untuk jadi reseller ke pelanggan. Alhamdulillah dalam waktu seminggu ada 30 orang yang daftar reseller dan dibuat dalam satu group.
Awalnya, aku merasa cemas. Bagaimana jika aku tidak bisa mengelola para reseller ini dengan baik? Tapi, dengan bimbingan dari komunitas, aku perlahan mulai belajar cara mengelola reseller dan berusaha membuat mereka nyaman. Alhamdulillah, senang rasanya bisa mengalahkan rasa takut dan gagap dalam mengelola grup reseller. Walaupun masih jauh dari sempurna, aku merasa bahagia karena aku telah melangkah keluar dari zona nyaman dan memulai sesuatu yang baru.
Langkah Kelima: Memberikan Manfaat untuk Orang Lain
“Apa yang ingin orang lain kenang, jika kamu sudah tidak ada di dunia ini?” Pertanyaan pemantik dari guruku untuk kelas terakhir ini.
Di kelas terakhir, aku belajar tentang bagaimana kita bisa mengubah masalah menjadi solusi dan memberikan manfaat bagi orang lain. Di sini, kami diajarkan untuk berpikir lebih besar, tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Aku bersama beberapa teman di komunitas ini, memulai membuat tim yang fokus pada kesehatan mental ibu, khususnya pengelolaan emosi. Aku berperan sebagai konten kreator di tim ini, menghasilkan konten-konten yang dapat membantu ibu-ibu dalam mengelola emosi mereka.
Alhamdulillah, tim kami telah membantu banyak ibu untuk merasa lebih baik dalam menjalani kehidupan mereka. Aku merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari perubahan kecil ini, memberikan manfaat bagi orang lain.
Transformasi Diriku
Sekarang, setelah menjalani proses ini satu demi satu, aku merasa jauh berbeda dari diriku yang dulu. Aku telah banyak belajar, dan meskipun masih terus belajar, aku merasa lebih tenang dan lebih bijak lagi dalam menjalani hidup. Aku sudah bisa memilah mana yang penting dan mana yang tidak. Ketika ada orang yang bertanya, “Kenapa anakmu belum bisa bicara lancar?” atau “Kok anakmu kecil banget?” aku tidak lagi merasa tertekan. Aku tahu bahwa setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda, dan selama itu dalam batas yang wajar, aku tidak perlu khawatir.
Dari seorang ibu yang minder dan penuh keraguan, kini aku menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Aku mengenal diriku lebih baik, dan aku merasa lebih siap untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Aku tahu bahwa hidup ini bukan tentang menghindari kerikil-kerikil yang ada, melainkan bagaimana kita belajar untuk melewati setiap rintangan dengan ilmu yang kita miliki.
Begitulah kisahku, perjalanan seorang ibu yang berusaha melewati kerikil-kerikil kehidupan ini. Aku tahu, perjalanan ini belum berakhir, karena setiap hari adalah kesempatan baru untuk terus belajar dan bertumbuh.

.jpeg)
