Siang ini, aula Sekolah Menengah (SM) Sekolah Alam Bogor berubah menjadi lautan tas gunung dan semua perlengkapan untuk ekspedisi Gunung Gede Pangrango besok hari. Angin semilir menerpa wajah-wajah semangat kami. Suara siswa-siswi SM bercampur dengan derap langkah para fasilitator yang mondar-mandir memeriksa perlengkapan. Aku berdiri di antara tumpukan barang, menggenggam clipboard berisi daftar yang sudah kuhafal di luar kepala.
“Sleeping bag, sudah dicek?” tanyaku pada Gina, salah satu siswi yang sedang berjongkok menata isi tasnya.
“Sudah, Bu Yuli,” jawabnya dengan wajah cerah, meski nada suaranya mengandung sedikit gugup. Aku tersenyum. “Oke, peralatan lainnya jangan sampai ketinggalan, ya.”
Setelah semua perlengkapan selesai, anak-anak diperbolehkan pulang, untuk istirahat menyiapkan stamina untuk keberangkatan esok hari.
***
Hari ini pun datang, hari yang sudah kami nantikan berbulan-bulan: Ekspedisi Gunung Gede Pangrango, bagian dari program pembelajaran dari alam. Tujuannya bukan sekadar mendaki, tapi belajar tentang kemandirian, kebersamaan, dan kebesaran Sang Pencipta lewat pengalaman nyata di alam.
Aku bukan pendaki. Bahkan, ini pertama kalinya aku benar-benar akan menapaki jalur pendakian gunung sesungguhnya. Tapi ketika pihak sekolah memutuskan ekspedisi ini menjadi bagian dari kurikulum kepemimpinan, dan aku ditunjuk menjadi salah satu fasilitator pendamping, aku tahu ini bukan kebetulan. Allah ingin aku belajar sesuatu dari perjalanan ini.
Pagi ini, kami berangkat. Udara pagi terasa segar, meski jantungku sempat berdebar keras melihat truk TNI hijau tua yang akan membawa kami menuju pos pendakian.
“Bu Yuli, naik di depan aja ya!” tawar salah satu fasilitator laki-laki, Pak Soleh.
Aku tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Pak. Saya di belakang sama anak-anak.” Anak-anak bersorak. Mereka duduk berdesakan di bak truk, saling menepuk bahu, bernyanyi, bahkan ada yang berdoa pelan sambil menatap langit. Angin menerpa wajah, dingin tapi membangkitkan semangat.
Dari kejauhan, Gunung Gede terlihat megah, puncaknya diselimuti awan putih yang menggulung seperti kapas. Dalam hati aku berbisik, Ya Allah, beri kami kekuatan. Jangan biarkan langkah ini hanya menjadi perjalanan fisik, tapi juga perjalanan jiwa.
***
Setibanya di pos pendakian, kami membentuk barisan. Salah satu fasilitator ikhwan memberikan pengarahan dan beberapa nasihat serta memimpin doa. “Bismillah, semoga perjalanan ini membawa banyak pelajaran, bukan hanya ke puncak, tapi juga ke dalam hati kita.”
Setelah itu, kami mulai mendaki. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok, laki-laki dan perempuan terpisah. Aku dan Bu Nita memimpin kelompok akhwat, sementara para fasilitator Ikhwan dan lainnya memimpin kelompok Ikhwan. Juga ada fasilitator Ikhwan yang bertanggung jawab di depan dan belakang untuk sweeping.
Langkah pertama terasa ringan. Jalur tanah yang masih landai membuat anak-anak bercanda riang. Tapi perlahan, jalan mulai menanjak, napas mulai tersengal, dan wajah cerah tadi berubah menjadi serius.
“Astaghfirullah... capek banget, Bu,” keluh Chelsea sambil berhenti menunduk.
Aku tersenyum dan menepuk bahunya. “Capek itu wajar. Tapi ingat, kita naik pelan-pelan. Fokus sama langkahmu, bukan puncaknya dulu.
Pelajaran kecil itu, entah kenapa, juga menamparku sendiri.
***
Perjalanan mulai terasa panjang. Kami berhenti di beberapa pos untuk istirahat. Setiap kali berhenti, Bu Nita mengingatkan anak-anak untuk minum dan berzikir pelan.
Di salah satu pos, kami berhenti agak lama. Beberapa anak mengeluh sakit kaki. Aku mengeluarkan perban dari tas dan membantu mereka membalut luka lecet. Setiap kali kami berhenti, aku perhatikan anak-anak saling membantu. Ada yang menawarkan air, ada yang membantu memanggul tas temannya. Di tengah dingin dan lelah, muncul empati yang tulus—sesuatu yang tak selalu lahir dari ruang kelas.
***
Menjelang siang, kami tiba di area datar dekat aliran air. Para fasilitator memutuskan berhenti lebih lama untuk makan siang dan shalat. Kami gelar matras di atas tanah, sementara angin gunung berhembus membawa aroma dedaunan basah.
Anak-anak berwudhu dengan air yang jernih dan dingin menggigit. Sebagian menggigil, tapi tetap tersenyum. Aku berdiri di barisan saf perempuan, menghadap arah kiblat yang ditunjukkan oleh kompas kecil. Saat takbir pertama terdengar, hatiku bergetar.
Langit biru membentang tanpa batas, dan di tengah sunyi hutan, suara takbir itu terasa begitu dekat dengan langit. Setelah shalat, kami duduk melingkar. Pak Arif memberikan tausiah singkat.
“Naik gunung itu seperti hidup,” katanya pelan. “Kadang menanjak, kadang ingin menyerah. Tapi kalau kita berhenti, kita nggak akan pernah tahu keindahan yang Allah siapkan di atas sana.”
Aku menunduk, menahan haru. Di antara lelah dan napas yang berat, aku tahu—kami sedang belajar lebih dari sekadar ilmu alam. Kami sedang belajar mengenal diri dan Sang Pencipta.
***
Menjelang sore, kabut mulai turun. Udara makin dingin. Jalur makin menanjak. Grup ikhwan sudah jauh di depan. Kami, kelompok akhwat, mulai tertinggal. Setiap langkah terasa berat. Napas terasa seperti menembus dada. Beberapa anak mulai menangis pelan.
“Bu... aku nggak kuat lagi...” bisik salah satu dari mereka dengan suara serak.
Aku berhenti, menatap wajah-wajah letih itu. Dalam hati, aku juga ingin menyerah. Kakiku gemetar, punggung terasa nyeri, dan udara dingin menusuk tulang. Tapi melihat mereka, aku tahu aku tidak boleh lemah.
Aku berdiri tegak, menatap ke depan. “Teman-teman. Kita nggak mungkin turun lagi. Hari sudah hampir malam. Yang bisa kita lakukan hanya satu—melangkah terus. Sedikit lagi, kita pasti sampai.”
Mereka menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Entah dari mana datangnya kekuatan itu. Tapi setelah kata-kata itu keluar, langkah-langkah kecil mulai terdengar lagi. Satu per satu anak bangkit dan melanjutkan pendakian.
Aku berjalan paling belakang, memastikan tak ada yang tertinggal. Langit mulai gelap. Hanya cahaya headlamp yang menembus kabut. Suara kami nyaris tak terdengar, kecuali desah napas dan doa yang berbisik lirih.
***
Jam menunjukkan hampir pukul delapan malam saat kami akhirnya melihat cahaya lampu dari kejauhan. “Bu! Itu lampu tenda!” teriak salah satu anak dengan suara serak tapi penuh semangat. Aku hampir tak percaya. Air mata menetes tanpa bisa kutahan. Kami benar-benar sampai. Begitu tiba di Alun-Alun Suryakencana, anak-anak langsung berbaring di tanah, tertawa dan menangis bersamaan. Aku memeluk Bu Nita. “Alhamdulillah… akhirnya.”
***
Pagi berikutnya, kami bangun dengan tubuh pegal, tapi hati ringan. Kami shalat Subuh berjamaah di padang rumput, diiringi embun yang jatuh dari dedaunan. Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan ke puncak gunung Gede, tanpa hambatan. “Aku tahu sekarang kenapa gunung disebut tempat belajar terbaik. Karena di sini, kita bisa melihat kebesaran Allah dari jarak yang sangat dekat.” Aku tersenyum. Rasanya segala lelah terbayar lunas.
***
Perjalanan turun terasa lebih ringan, meski lutut mulai protes. Tapi kali ini tak ada lagi keluhan. Anak-anak lebih banyak diam, menikmati suara alam. Gunung itu mengajarkan kami banyak hal—tentang kemandirian, kesabaran, rasa syukur, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah datang tepat ketika manusia hampir menyerah.

