Jumat, 30 Januari 2026

Ketika Gunung Menjadi Sekolah Kami


Siang ini, aula Sekolah Menengah (SM) Sekolah Alam Bogor berubah menjadi lautan tas gunung dan semua perlengkapan untuk ekspedisi Gunung Gede Pangrango besok hari. Angin semilir menerpa wajah-wajah semangat kami. Suara siswa-siswi SM bercampur dengan derap langkah para fasilitator yang mondar-mandir memeriksa perlengkapan. Aku berdiri di antara tumpukan barang, menggenggam clipboard berisi daftar yang sudah kuhafal di luar kepala.

“Sleeping bag, sudah dicek?” tanyaku pada Gina, salah satu siswi yang sedang berjongkok menata isi tasnya.

“Sudah, Bu Yuli,” jawabnya dengan wajah cerah, meski nada suaranya mengandung sedikit gugup. Aku tersenyum. “Oke, peralatan lainnya jangan sampai ketinggalan, ya.”

Setelah semua perlengkapan selesai, anak-anak diperbolehkan pulang, untuk istirahat menyiapkan stamina untuk keberangkatan esok hari.

***

Hari ini pun datang, hari yang sudah kami nantikan berbulan-bulan: Ekspedisi Gunung Gede Pangrango, bagian dari program pembelajaran dari alam. Tujuannya bukan sekadar mendaki, tapi belajar tentang kemandirian, kebersamaan, dan kebesaran Sang Pencipta lewat pengalaman nyata di alam.

Aku bukan pendaki. Bahkan, ini pertama kalinya aku benar-benar akan menapaki jalur pendakian gunung sesungguhnya. Tapi ketika pihak sekolah memutuskan ekspedisi ini menjadi bagian dari kurikulum kepemimpinan, dan aku ditunjuk menjadi salah satu fasilitator pendamping, aku tahu ini bukan kebetulan. Allah ingin aku belajar sesuatu dari perjalanan ini.

Pagi ini, kami berangkat. Udara pagi terasa segar, meski jantungku sempat berdebar keras melihat truk TNI hijau tua yang akan membawa kami menuju pos pendakian.

“Bu Yuli, naik di depan aja ya!” tawar salah satu fasilitator laki-laki, Pak Soleh.

Aku tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Pak. Saya di belakang sama anak-anak.” Anak-anak bersorak. Mereka duduk berdesakan di bak truk, saling menepuk bahu, bernyanyi, bahkan ada yang berdoa pelan sambil menatap langit. Angin menerpa wajah, dingin tapi membangkitkan semangat.

Dari kejauhan, Gunung Gede terlihat megah, puncaknya diselimuti awan putih yang menggulung seperti kapas. Dalam hati aku berbisik, Ya Allah, beri kami kekuatan. Jangan biarkan langkah ini hanya menjadi perjalanan fisik, tapi juga perjalanan jiwa.

***

Setibanya di pos pendakian, kami membentuk barisan. Salah satu fasilitator ikhwan memberikan pengarahan dan beberapa nasihat serta memimpin doa. “Bismillah, semoga perjalanan ini membawa banyak pelajaran, bukan hanya ke puncak, tapi juga ke dalam hati kita.”

Setelah itu, kami mulai mendaki. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok, laki-laki dan perempuan terpisah. Aku dan Bu Nita memimpin kelompok akhwat, sementara para fasilitator Ikhwan dan lainnya memimpin kelompok Ikhwan. Juga ada fasilitator Ikhwan yang bertanggung jawab di depan dan belakang untuk sweeping.

Langkah pertama terasa ringan. Jalur tanah yang masih landai membuat anak-anak bercanda riang. Tapi perlahan, jalan mulai menanjak, napas mulai tersengal, dan wajah cerah tadi berubah menjadi serius.

“Astaghfirullah... capek banget, Bu,” keluh Chelsea sambil berhenti menunduk.

Aku tersenyum dan menepuk bahunya. “Capek itu wajar. Tapi ingat, kita naik pelan-pelan. Fokus sama langkahmu, bukan puncaknya dulu.

Pelajaran kecil itu, entah kenapa, juga menamparku sendiri.

***

Perjalanan mulai terasa panjang. Kami berhenti di beberapa pos untuk istirahat. Setiap kali berhenti, Bu Nita mengingatkan anak-anak untuk minum dan berzikir pelan.

Di salah satu pos, kami berhenti agak lama. Beberapa anak mengeluh sakit kaki. Aku mengeluarkan perban dari tas dan membantu mereka membalut luka lecet. Setiap kali kami berhenti, aku perhatikan anak-anak saling membantu. Ada yang menawarkan air, ada yang membantu memanggul tas temannya. Di tengah dingin dan lelah, muncul empati yang tulus—sesuatu yang tak selalu lahir dari ruang kelas.

***

Menjelang siang, kami tiba di area datar dekat aliran air. Para fasilitator memutuskan berhenti lebih lama untuk makan siang dan shalat. Kami gelar matras di atas tanah, sementara angin gunung berhembus membawa aroma dedaunan basah.

Anak-anak berwudhu dengan air yang jernih dan dingin menggigit. Sebagian menggigil, tapi tetap tersenyum. Aku berdiri di barisan saf perempuan, menghadap arah kiblat yang ditunjukkan oleh kompas kecil. Saat takbir pertama terdengar, hatiku bergetar.

Langit biru membentang tanpa batas, dan di tengah sunyi hutan, suara takbir itu terasa begitu dekat dengan langit. Setelah shalat, kami duduk melingkar. Pak Arif memberikan tausiah singkat.

“Naik gunung itu seperti hidup,” katanya pelan. “Kadang menanjak, kadang ingin menyerah. Tapi kalau kita berhenti, kita nggak akan pernah tahu keindahan yang Allah siapkan di atas sana.”

Aku menunduk, menahan haru. Di antara lelah dan napas yang berat, aku tahu—kami sedang belajar lebih dari sekadar ilmu alam. Kami sedang belajar mengenal diri dan Sang Pencipta.

***

Menjelang sore, kabut mulai turun. Udara makin dingin. Jalur makin menanjak. Grup ikhwan sudah jauh di depan. Kami, kelompok akhwat, mulai tertinggal. Setiap langkah terasa berat. Napas terasa seperti menembus dada. Beberapa anak mulai menangis pelan.

“Bu... aku nggak kuat lagi...” bisik salah satu dari mereka dengan suara serak.

Aku berhenti, menatap wajah-wajah letih itu. Dalam hati, aku juga ingin menyerah. Kakiku gemetar, punggung terasa nyeri, dan udara dingin menusuk tulang. Tapi melihat mereka, aku tahu aku tidak boleh lemah.

Aku berdiri tegak, menatap ke depan. “Teman-teman. Kita nggak mungkin turun lagi. Hari sudah hampir malam. Yang bisa kita lakukan hanya satu—melangkah terus. Sedikit lagi, kita pasti sampai.”

Mereka menatapku dengan mata berkaca-kaca.

Entah dari mana datangnya kekuatan itu. Tapi setelah kata-kata itu keluar, langkah-langkah kecil mulai terdengar lagi. Satu per satu anak bangkit dan melanjutkan pendakian. 

Aku berjalan paling belakang, memastikan tak ada yang tertinggal. Langit mulai gelap. Hanya cahaya headlamp yang menembus kabut. Suara kami nyaris tak terdengar, kecuali desah napas dan doa yang berbisik lirih.

***

Jam menunjukkan hampir pukul delapan malam saat kami akhirnya melihat cahaya lampu dari kejauhan. “Bu! Itu lampu tenda!” teriak salah satu anak dengan suara serak tapi penuh semangat. Aku hampir tak percaya. Air mata menetes tanpa bisa kutahan. Kami benar-benar sampai. Begitu tiba di Alun-Alun Suryakencana, anak-anak langsung berbaring di tanah, tertawa dan menangis bersamaan. Aku memeluk Bu Nita. “Alhamdulillah… akhirnya.”

***

Pagi berikutnya, kami bangun dengan tubuh pegal, tapi hati ringan. Kami shalat Subuh berjamaah di padang rumput, diiringi embun yang jatuh dari dedaunan. Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan ke puncak gunung Gede, tanpa hambatan. “Aku tahu sekarang kenapa gunung disebut tempat belajar terbaik. Karena di sini, kita bisa melihat kebesaran Allah dari jarak yang sangat dekat.” Aku tersenyum. Rasanya segala lelah terbayar lunas.

***

Perjalanan turun terasa lebih ringan, meski lutut mulai protes. Tapi kali ini tak ada lagi keluhan. Anak-anak lebih banyak diam, menikmati suara alam. Gunung itu mengajarkan kami banyak hal—tentang kemandirian, kesabaran, rasa syukur, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah datang tepat ketika manusia hampir menyerah.


Selasa, 18 Maret 2025

Ramadan dan Ketenangan Hati Ibu

 🌿 Ramadan dan Ketenangan Hati Ibu 🌿

Menjadi seorang ibu di bulan Ramadan adalah anugerah sekaligus ujian. Di satu sisi, kita ingin memanfaatkan bulan penuh berkah ini untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan ibadah, dan memperbaiki diri. Namun, di sisi lain, ada tanggung jawab yang tetap harus dijalankan: menyiapkan sahur dan berbuka, mengurus anak-anak yang mungkin sedang belajar berpuasa, menyelesaikan pekerjaan rumah, hingga menahan emosi di tengah kelelahan.

Wahai ibu, jika Ramadan terasa melelahkan, ingatlah bahwa Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya. Terkadang, kita terlalu menuntut diri untuk menjadi ibu yang sempurna—memasak hidangan terbaik, menjaga rumah tetap rapi, mendampingi anak dengan sabar, dan tetap menjalankan ibadah dengan sempurna. Namun, kesempurnaan bukanlah tujuan kita. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani semua ini dengan hati yang tenang dan penuh keikhlasan.

💡 Ramadan adalah Waktu untuk Melatih Kesabaran

Dalam Islam, kesabaran adalah salah satu akhlak yang paling tinggi nilainya. Allah berfirman:

"Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46)

Sabar bukan hanya berarti menahan amarah, tetapi juga bersabar dalam menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan, sabar dalam menjalani rutinitas yang melelahkan, dan sabar dalam merawat diri sendiri. Ramadan mengajarkan kita untuk memperlambat langkah, menikmati setiap momen, dan tidak terburu-buru dalam segala hal.

Sebagai ibu, sering kali kita merasa harus mendahulukan kepentingan keluarga dan mengesampingkan diri sendiri. Namun, jika hati kita penuh tekanan, anak-anak pun akan merasakannya. Maka, menjaga kesehatan mental selama Ramadan juga bagian dari ibadah.

✨ Tips Menjaga Ketenangan Hati Ibu di Ramadan

Lakukan ibadah dengan cara yang paling nyaman – Jika sulit untuk membaca Al-Qur’an dalam waktu lama, dengarkan murottal saat memasak atau menyusui anak. Jika tidak bisa shalat malam, perbanyak doa setelah shalat wajib.

Sederhanakan tugas harian – Tidak perlu memasak menu berbuka yang mewah setiap hari. Buat jadwal sederhana agar tidak kelelahan.

Ambil waktu untuk diri sendiri – Luangkan beberapa menit setelah shalat untuk duduk tenang, menarik napas, dan berzikir. Ini akan membantu menenangkan hati dan pikiran.

Kelola ekspektasi – Tidak apa-apa jika rumah tidak selalu rapi, jika anak rewel, atau jika ibadah terasa kurang maksimal. Allah melihat usaha kita, bukan hasil akhirnya.

Jangan ragu meminta bantuan – Minta dukungan dari suami atau anak-anak agar pekerjaan rumah lebih ringan.

🌷 Ramadan Ini, Beri Cinta Juga untuk Dirimu

Ibu, engkau berharga di mata Allah. Setiap langkahmu dalam mengurus keluarga adalah ibadah. Jangan merasa gagal jika ada hari-hari yang terasa sulit. Yang penting adalah tetap berusaha, tetap berdoa, dan tetap menjaga hati agar tetap tenang dan ikhlas.

Semoga Ramadan ini menjadi waktu terbaik untuk kita belajar sabar, bersyukur, dan lebih mencintai diri sendiri. 🤍✨


Minggu, 09 Maret 2025

Pilihan Madina End

-Tamat-


Pilihan Madina (Bagian 4 - Tamat)

Hari-hari berlalu dengan lebih ramai daripada sebelumnya. Biru masih menjadi Biru yang jahil dan penuh percaya diri, sementara Madina masih menjadi Madina yang pura-pura kesal setiap kali digoda. Namun, ada sesuatu yang berbeda sekarang. Setiap kali Biru menggodanya, Madina tidak lagi merasa terganggu. Justru, ada perasaan aneh yang ia sendiri tak bisa jelaskan.  

Di sisi lain, Laut semakin menjaga jarak. Sejak pesan terakhirnya di daftar absen perpustakaan, ia tak lagi meninggalkan catatan untuk Madina. Mereka masih bertemu di kampus, masih sesekali bertukar sapa, tapi Madina tahu, ada sesuatu yang berubah.  

Suatu sore, Madina duduk di taman kampus, menikmati udara sejuk sambil membaca buku. Tanpa ia sadari, seseorang duduk di sampingnya.  

"Lagi baca apa?"  

Madina menoleh. Laut.  

Ia tersenyum kecil. "Novel. Butuh sesuatu?"  

Laut menggeleng. "Cuma mau ngobrol sebentar."  

Madina menutup bukunya. "Tentang apa?"  

Laut terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Biru menang, ya?"  

Madina tersentak. Ia menatap Laut, lalu menunduk. "Aku nggak pernah menganggap ini sebagai sebuah kompetisi."  

Laut tersenyum tipis. "Aku tahu. Tapi aku juga tahu kakak sudah membuat pilihan."  

Madina mengangguk pelan. "Maaf, Laut…"  

Laut menghela napas, lalu tersenyum. "Nggak apa-apa. Aku senang bisa jadi bagian dari cerita ini, seperti yang kakak bilang di catatan terakhir kita."  

Madina menatap Laut dalam-dalam. Ada sedikit rasa sedih, tapi juga lega. Laut adalah seseorang yang baik, seseorang yang Madina hormati. Ia berharap Laut akan menemukan seseorang yang lebih tepat untuknya.  

"Kita tetap teman?" tanya Madina.  

Laut tersenyum. "Tentu saja."  

Dan dengan itu, sebuah bab dalam hidup Madina selesai. 

---  

Malam itu, hujan turun deras. Madina masih berada di kampus, menyelesaikan tugas kelompok di ruang diskusi perpustakaan. Ia tahu ia harus segera pulang, tapi hujan yang begitu deras membuatnya ragu untuk berlari ke asrama.  

Saat ia berdiri di depan pintu perpustakaan, menunggu hujan reda, tiba-tiba sebuah payung merah muncul di atas kepalanya.  

Madina menoleh dan mendapati Biru berdiri di sampingnya, dengan senyum khasnya yang penuh percaya diri.  

"Kak Madina nggak bawa payung, kan?" tanyanya dengan nada santai, seolah ini adalah hal biasa.  

Madina menatapnya curiga. "Kamu dari mana?"  

Biru menggaruk kepalanya. "Dari kantin. Terus aku kepikiran… kira-kira Kak Madina udah pulang atau belum."  

Madina mengerjapkan mata. "Kamu nunggu di sini?"  

Biru hanya tersenyum. "Kalau nggak, siapa lagi yang bakal jagain kakak?"  

Madina terdiam. Ada sesuatu di dadanya yang tiba-tiba terasa hangat.  

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan di bawah payung yang Biru pegang. Mereka menyusuri jalan menuju asrama putri, hanya suara rintik hujan yang menemani.  

"Aku heran, Bir," kata Madina akhirnya.  

"Hm?"  

"Kamu ini ada banyak tugas, kan? Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan selain gangguin aku. Kenapa sih?"  

Biru tertawa kecil. "Karena aku suka, Kak."  

Madina mendelik. "Itu aja alasannya?"  

"Ya." Biru menoleh ke arahnya, lalu menambahkan, "Dan karena aku tahu kakak juga suka sama aku."  

Madina langsung berhenti melangkah. Ia menatap Biru dengan alis terangkat. "Siapa bilang?"  

Biru mengangkat bahu, lalu memasukkan satu tangannya ke saku jaketnya. "Nggak perlu ada yang bilang. Aku bisa lihat."  

Madina mendecak, tapi tidak bisa menahan senyumnya.  

Mereka kembali berjalan, dan akhirnya sampai di depan gerbang asrama.  

Biru menatap Madina dengan ekspresi yang lebih serius kali ini. "Udah berapa persen sekarang?" tanyanya, masih dengan nada bercanda, tapi matanya penuh harapan.  

Madina menatap Biru lama. Kali ini, ia tidak akan menghindar.  

"Seratus."  

Biru terdiam. Sepertinya ia tidak menyangka Madina akan menjawabnya dengan jelas.  

Lalu, perlahan-lahan, senyuman lebar muncul di wajahnya. "Serius, Kak?"  

Madina mengangguk. "Serius."  

Biru menghela napas panjang, lalu tertawa kecil. "Akhirnya perjuanganku nggak sia-sia."  

Madina ikut tertawa. "Iya. Tapi jangan nyebelin lagi ya?"  

Biru mengedipkan mata. "Nggak janji."  

Madina hanya bisa menggeleng, tapi kali ini, ia tidak merasa kesal. Karena sekarang, ia tahu—Biru memang selalu seperti itu. Menyebalkan, jahil, tapi juga seseorang yang tak bisa diabaikan.  

Dan ia tidak ingin mengabaikannya lagi.  

TAMAT